TITAH PRAMADHITA: Inovasi SMAN 1 Banyuwangi dengan Pendekatan Edu-Religius dan Keadilan Restoratif dalam Transformasi Penegakan Kedisiplinan
Sanksi administratif seperti skorsing atau surat peringatan kerap menjadi jalan pintas untuk menangani pelanggaran tata tertib di lingkungan sekolah. Namun, cara konvensional ini kerap kali hanya memberikan efek jera sesaat tanpa menyentuh akar permasalahan, sehingga fenomena seperti perundungan (bullying), membolos, hingga merokok masih terus berulang. Menjawab tantangan tersebut, hadir sebuah terobosan pembinaan karakter siswa bertajuk TITAH PRAMADHITA—akronim dari Tinggalkan Yang Lalu, Taat dan Bangkit untuk Hebat. Inovasi ini mengusung pendekatan keadilan restoratif (restorative justice) berbalut nilai Edu-Religius guna mengubah paradigma penegakan disiplin sekolah menjadi jauh lebih humanis.
Gagasan inovasi ini lahir dari pengamatan langsung terhadap pola perilaku siswa dan evaluasi kritis atas efektivitas sanksi yang selama ini diterapkan. Pendekatan lama yang mengedepankan hukuman dinilai kurang mampu mengubah mentalitas murid secara jangka panjang. Dari evaluasi tersebut, muncul ide untuk mentransformasi sanksi menjadi proses pembinaan yang merangsang kesadaran diri. Melalui pendekatan Edu-Religius, siswa tidak sekadar menanggung konsekuensi atas pelanggarannya, tetapi juga dibimbing secara personal untuk memahami kesalahan, memperbaiki diri, dan bertanggung jawab atas tindakan mereka.
Penerapan TITAH PRAMADHITA membawa angin segar bagi iklim pendidikan dengan memberikan ruang refleksi yang mendalam bagi siswa. Melalui program ini, siswa dibantu menyadari kesalahan tanpa merasa dihakimi, sehingga sikap disiplin tumbuh dari dalam diri sendiri. Inovasi ini juga membangun sinergi yang lebih erat antara siswa, guru Bimbingan Konseling (BK), dan orang tua dalam mendampingi proses perubahan perilaku anak. Pada akhirnya, TITAH PRAMADHITA diharapkan mampu menekan angka pelanggaran tata tertib secara signifikan, menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan kondusif, serta mengubah sekolah menjadi tempat pemulihan di mana siswa berani meninggalkan masa lalu dan bangkit menjadi pribadi yang lebih hebat.




